Rukok Linto Baro (Sebuah Tradisi Pengantin Baru Pria Pada Masyarakat Desa Lhong Cut, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh)

  • Riswan Sekolah TinggiIlmu Sosial dan Politik Al-waslhiyah

Abstract

Perkawinan adalah suatu ikatan janji suci  antara seorang pria dengan seorang Wanita yang mengakibatkan bersatunya dua keluarga besar dan terkadang berakibatkan bersatunya dua  kampung/desa, sehingga pada saat-saat menjelang perkawinan dan sesudahnya banyak kegiatan-kegiatan yang bersifat suci dilaksanakan agar penyatuan dua orang anak manusia atau penyatuaan dua keluarga besar bahkan penyatuan dua kampung/desa dapat terlaksana dengan baik dan berjalan lancar. Demikian juga halnya yang berlaku pada masyarakat di desa Lhong Cut, kecamatan Banda Raya, kota Banda Aceh, Provinsi Aceh pada saat pelaksanaan upacara perkawinan, dan salah satu rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan setelah kegiatan  duduk bersanding pengantin pria dan Wanita tersebut, maka pada malam harinya terhadap Pengantin pria yang berasal dari luar desa Lhong Cut melaksanakan  kegiatan yang harus dilakukan adalah yang dinamakan “Rukok Linto Baro (Rokok Pengantin Pria)” yang sudah dilaksanakan sejak zaman dahulu hingga sekarang dan hal ini tetap dilestariakan sebab dianggap suatu hal baik. Pelaksanaan kegiatan ini (Rukok Linto Baro) dilaksanakan selama 3 (tiga) malam secara berturut-turut di Meunasah (Musalla) desa Lhong Cut dengan membawa satu piring sirih beserta perlengkapannya dan beberapa bungkus rokok untuk dicicipi dan dinikmati setelah pelaksanaan shalat Maghrib berjamaah hingga menjelang shalat Insya berjamaah. Dimana pada saat itu Pengantin Pria yang didampingi oleh seorang sanak saudara dari pengantin pria akan diperkenalkan kepada Imam Meunasah (Musalla) dan para orang-orang tua serta Tuha Peut (empat pemangku adat istiadat) pada desa tersebut.

Published
2023-06-02
How to Cite
Riswan. (2023). Rukok Linto Baro (Sebuah Tradisi Pengantin Baru Pria Pada Masyarakat Desa Lhong Cut, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh). Jurnal Sociohumaniora Kodepena (JSK) , 4(1), 153-162. https://doi.org/10.54423/jsk.v4i1.126