Bahasa Gaul Positif dan Negatif di Kalangan Gen Z pada Era Digital

  • Muhammad Rafli SMA Pasundan 7 Bandung
  • Rani Siti Fitriani

Abstract

Penelitian ini menganalisis fenomena linguistik bahasa gaul di kalangan Generasi Z (Gen Z) Indonesia dalam era digital. Sebagai digital natives, Gen Z mengembangkan lanskap leksikal yang unik, yang secara signifikan dipengaruhi oleh platform media sosial seperti TikTok, X, dan Instagram, serta budaya game online. Metode yang digunakan adalah analisis wacana kualitatif terhadap istilah-istilah yang populer, dengan mengklasifikasikannya ke dalam tiga kategori utama: positif, negatif, dan kontekstual. Hasil analisis menunjukkan bahwa bahasa gaul Gen Z memiliki karakteristik hibrida, memadukan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris secara kreatif. Istilah positif seperti slay, menyala abangku, dan green flag berfungsi sebagai alat apresiasi dan penguat ikatan sosial. Sebaliknya, istilah negatif seperti cringe, red flag, dan cegil digunakan untuk kritik sosial, pelabelan, dan ekspresi ketidaknyamanan. Beberapa istilah seperti flexing dan healing menunjukkan ambiguitas makna yang sangat bergantung pada konteks penggunaannya. Disimpulkan bahwa bahasa gaul Gen Z bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga merupakan penanda identitas generasi yang dinamis, merefleksikan kreativitas, globalisasi, dan kompleksitas interaksi sosial di ruang digital.

Published
2026-02-13
How to Cite
Muhammad Rafli, & Rani Siti Fitriani. (2026). Bahasa Gaul Positif dan Negatif di Kalangan Gen Z pada Era Digital. Jurnal Sociohumaniora Kodepena (JSK) , 6(2), 168-173. https://doi.org/10.54423/jsk.v6i2.212